Celah Kehancuran
![]() |
| Sumber gambar; yokimirantiyo.blogspot.com |
Hamparan laut yang luas dan membentang dihiasi oleh alunan angin dan ombak yang merdu dan berirama membuat hati merasa aman dan damai. Semakin lama laut di tepi pantai ini dipandang airnyapun kian menjauh dari bibir panti, seolah-olah ingin pergi jauh meninggalkan tempatnya.
"Alam ini diciptakan untuk dinikmati bukan untuk dinodai bukan hanya itu tetapi alam ini perlu untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan." (Amaljaya)
Kehiudupan manusia layaknya air laut di bibir panti, terkadang mengalami pasang ataupun surut. Pengakuan seorang terhadap pribadi manuisa memang dibuthkan untuk membuat air laut di bibir pantai kita kembali pasang. Namun yang menjadi permasalahanya segelintir dari kaum Adam mecoba menyalahgunakan dengan membombardirkan diri mereka ke orang lain bukan untuk membuat bibir pantainya mengalami pasang tapi hanya karena ingin mendapat pengakuan dan penghargaan agar ia lebih dikenal tujuannya sudah jelas tidak lain hanyalah aktualisasi semata. Semakin banyak kata diucapkan maka semakin banyak pula cela bagi orang lain untuk melihat keburukan yang ada pada diri anda.
Bukankah pemimpin dunia utusan Allah telah memberikan pesan kepada kita bahwa hendaknya kita berkata baik atau diam. Pesan ini mengisyaratakan kepada kita dengan sangat jelas, ucapkan kalimat hanya yang baik dan yang dibutuhkan saja, dan hendaknya kita diam ketika memang di dalam pembicaraan yang tidak dapat mendatangkan manfaat.
"Jangan pernah mencoba untuk memperkenalkan pribadi anda di hadapan orang lain hanya karena ingin mendaptkan penghargaan. Tapi layakkan diri anda memang pribadi yang patut untu di hargai' (amaljaya15).

Comments
Post a Comment